Kamis, 26 Juni 2014

AusIndoArch Workshop #day2

Begitu masuk kamar, aku sibuk nentuin dimana tempat sholat, tempat narohin sepatu, dan tempat narohin koper. Belum sholat subuh. Seperti dugaanku, di Darwin ga ada orang yang bisa ditanya 'kiblatnya mana?' Jadi udah persiapan bawa kompas dari rumah. Temen-temen tadinya repot cari-cari arah matahari terbit. Selesai sholat, mandi, trus merem bentar. Jam 7.30 harus udah siap buat workshop 'tanah'.

Materi workshop 'tanah' ini oleh pak Gede Kresna.  Kami belajar membuat batu bata dari material lokal, bahan baku tanah berasal dari lingkungan sekitar, jadi ga menghasilkan jejak karbon yang banyak. Lumayan susah dan memakan waktu sih proses pembuatannya. Tapi seru! Prinsipnya, bahan baku dari lingkungan sekitar dan dikerjakan bersama-sama oleh warga sekitar. Gotong royong.

Temen-temen Australia seneng banget sama acara injak-injak tanah ini. Mereka kaget ternyata tanahnya berbatu. Rasanya jadi mirip foot massage. Kerja kami cukup sampe di seneng-seneng menguleni tanah. Selanjutnya diambil alih oleh Pak Wayan, pengrajin yang dibawa Pak Gede Kresna dari Bali. Setelah adonan tanah terasa liat, adonan didiamkan 1 hari dan ditutup bambu atau daun pisang. Baru bisa dibentuk kotak-kotak. Batu bata ini bisa juga lho dibentuk relief-relief. Caranya pakai kayu yang udah diukir sebagai cetakan.

menguleni tanah, foot massage
bule-bule juga girang

dibentuk kotak-kotak

mengukir cetakan relief
City Tour
Sehabis workshop 'tanah' kami balik ke dorm, siap-siap city tour. Padahal kaki pegelnya bukan main. Lihat kasur ketebak banget, aku ketiduran. Si Linda dan Sifa panik ketokin pintu. Untung kebangun.

Naik bus CDU, kami keliling-keliling kota Darwin. Ada pantai di sepanjang mata memandang. Arsitektur dan material bangunan di Darwin bisa dibilang nyaris seragam. Kata Simon Scally, NT Chapter President sekaligus tour guide kami, permasalahan kota Darwin adalah badai, udara kering musim panas yang sering bikin hutan semak terbakar, dan nyamuk yang bikin malaria mewabah.

Gereja Katedral di Darwin
ada beginian di shopping center
shelter di pedestrian ways
tulisan 'darwin' dalam berbagai bahasa

St. Mary's Primary School
Sekolah Dasar tertua di Darwin sejak tahun 1958. Nama sebelumnya St. Joseph's School. Tahun 2010 diredesain oleh Troppo Architect. Beberapa penghargaan yang diraih: AIA (NT) Urban Design Award, 2011; AIA (NT) Colorbond Steel Award, 2011; AIA National Urban Design Award commendation, 2011; AIA (NT) Tracy Award, 2011.

tampak depan St. Mary's School
lapangan tengah

foto oleh troppo
foto oleh troppo

Burnett House
Bangunan tropis 2 lantai didesain oleh Beni Burnett yang sekarang dijadikan sebagai cagar budaya Northern Teritory. Selesai dibangun tahun 1938. Berlokasi di Myilly Point Heritage Precinct. Yang menarik, bangunannya pakai material kayu semua, penghawaan alami, jalusi lebar-lebar, cuma dibatasi pakai kassa biar anti nyamuk. Malah kayak bangunan tradisional di negara kita ya hahaha. Di sini kita bisa beli souvenir dan barang antik. Atau yang lebih asik lagi kita juga bisa Afternoon Tea di tamannya.

fasad Burnett House
welcome to Burnett House
penghawaan alami di ruang tidur
hamparan pantai di depan Burnett House

Setelah kunjungan ke Burnett House dan St. Mary's Primary School, dan jalan jauh, di atas bus aku berkali-kali ketiduran. Padahal Simon dan Nield masih terus nerangin bangunan-bangunan sekitar. Pas kebangun aku lihat Simon senyum kasihan. Ternyata satu bus pada ketiduran. Harus dimaklumi. Aku bahkan belum tidur seharian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar