Sabtu, 28 Juni 2014

AusIndoArch Workshop #day4

Abis semaleman seneng-seneng, kembali lagi ke workshop. Temen subgrupku belum pada dateng. Mungkin pada mabok semalem. Aku sendirian sambil coret-coret healing center lagi. Eh si James dateng. Kami ngobrolin healing center. Trus pas aku tanya masukan ide dia, jelasin pake sketsa, dianya ga mau beneran. Katanya sketsa dia payah. Bule bisa juga merendah ya. Kirain cuma si Inta wkwk.

Kami diskusi-diskusi terus dibantu pak Antonio Ismael yang baik banget. Beliau orang hebat tapi ga sok hebat. Pinter mung ora kuminter. Pas beliau liat coretan denah healing centerku, langsung dibahas lebih lanjut. Seneng banget tuker ide sama pak Anton, apalagi kalo pas sependapat.


Gold medalist di Indonesian Garden







Jumat, 27 Juni 2014

AusIndoArch Workshop #day3

Hari ini workshop dimulai. Sebelumnya ada presentasi dari para master kami dan sedikit penjelasan soal Aboriginal Healing Center dari klien kami, Bilawara Lee. Peserta workshop dibagi jadi 3 grup.

Grup 1. tropical building material. Gede Kresna dan Troppo (Adrian Welke & Phil Haris)
Grup 2. smallest footprint, low energy tropical house. Yori Antar dan Peter Stuchbury
Grup 3. Aboriginal Healing Center. Antonio Risianto dan Sue Dugdale

Aku di grup 3, hore! Satu grup masih dibagi lagi jadi beberapa subgrup. Satu subgrup terdiri dari 4 mahasiswa. Aku se-subgrup sama Alvin dari UNS, Dannielle Jenkins dan James Stoddart dari CDU. Eh iya, sebelum workshop dimulai kami dibagiin semacam seminar kit. Berarti kali ini namanya workshop kit? Entah.


semuanya produk aussie, kecuali.. hahaa

Pengarahan desain dari para master, Pak Antonio dan Ibu Sue. Eh iya, ada pakar arsitektur lansekap juga, Tony.

pak anton lagi kasih arahan dengan sumringah

Sehabis pengarahan dari master, kami survey tapak. Tapak yang disediain untuk didesain masih satu kawasan sama CDU. Kondisi eksisting masih berupa hutan kayu putih dan semak. 



Dari total tapak seluas itu kami harus menentukan tapak mana dan seberapa luas yang bakal diolah jadi Aboriginal Healing Center. Kami diskusi lagi per subgrup dibimbing sama Tony, arsitek lansekap. Si Danni udah nerocos aja ngomongin idenya soal main entrance. Si James slow banget, cenderung ke... masa bodoh. Hahaha. Aku sama Alvin kalem, kalo ditanya ya jawab, kalo diminta masukan ide ya ngomong.

Eh iya, di gedung kampus CDU yang kami pakai buat acara workshop ini ternyata ada mushollanya lho! Hebat! Tapi tetep aja ga ada kran buat wudhu. Skill 'wudhu wastafel' ku ternyata kepake banget disini.

Jam 3 kami balik ke dorm buat siap-siap ke acara Northern Teritory architecture award night di Cornucopia.

foto dulu di dorm

Ga lama setelah foto-foto, bus kami dateng. Dan supirnya cewe itu lagi! Keren! Pakai dress anggun, pake high heels, tetep jadi supir bus yang setia. Namanya Kate, mahasiswa CDU, peserta wokshop juga. Hahaha.

Begitu sampe di Cornucopia Museum, takjub banget ngeliat meja-meja dinner di rerumputan dan pemandangan sunset pantai Darwin. Kirain bakal indoor acaranya, ternyata outdoor. Kami langsung disambut 'ketua genk' pelayan resto yang lagi bawa canapes. Canapes itu snack cocktail yang harus 'one bite' yang dibawa dan ditawarin ke pengunjung sambil keliling. Enak-enak! Ada sushi, tempura udang, yang lain ga tau namanya. Ga ketinggalan ada wine dan beer.

sunset di cornucopia
canapes man
peserta workshop keselip pak wayan
bareng ibu sue, pak anton, pak gede, dan bu yohana
bareng pak yori
cici - farrah - aku
gita - aku - sifa
Acara dimulai. Kayak kebanyakan acara-acara lain, pasti diawali dengan sambutan para orang penting. Eh kami, mahasiswa Indonesia disuruh berdiri dan yang lain otomatis pandangan tertuju pada kami sambil tepuk tangan. Rasanya kayak apa aja. Bangga.

Kelompok meja udah dibagi, aku dapet meja nomor 30 bareng Sifa, Angki, Sisca, Nanda, Ray, Vanessa, dan mas Lishin. Di meja ku ini ternyata ada raja mabok. Angki minum wine udah kayak minum air aqua aja. Glegek-glegek dan sadar terus, ga mabok-mabok. Aku penasaran. Botol red wine aku ciumin baunya ternyata kayak air tape. Persis. Sama sekali ga pengin cobain. Enakan tape, bertekstur.



Kami, para cewe-cewe pulang ke dorm. Sepanjang perjalanan pada ketawa-ketiwi ceritain si Angki raja mabok. Ternyata cewe-cewe banyak juga yang minum. Bahkan yang berjilbab. Kapan lagi minum red wine super enak gratis?, katanya. Australia emang salah satu penghasil wine terbaik di dunia. Penasaran sih, tapi alhamdulillah Allah masih baik banget sama aku, dikasih iman lebih.

Sampe dorm rasanya cape tapi belum ngantuk. Eh malah corat-coret healing center sampe jam 1.

Kamis, 26 Juni 2014

AusIndoArch Workshop #day2

Begitu masuk kamar, aku sibuk nentuin dimana tempat sholat, tempat narohin sepatu, dan tempat narohin koper. Belum sholat subuh. Seperti dugaanku, di Darwin ga ada orang yang bisa ditanya 'kiblatnya mana?' Jadi udah persiapan bawa kompas dari rumah. Temen-temen tadinya repot cari-cari arah matahari terbit. Selesai sholat, mandi, trus merem bentar. Jam 7.30 harus udah siap buat workshop 'tanah'.

Materi workshop 'tanah' ini oleh pak Gede Kresna.  Kami belajar membuat batu bata dari material lokal, bahan baku tanah berasal dari lingkungan sekitar, jadi ga menghasilkan jejak karbon yang banyak. Lumayan susah dan memakan waktu sih proses pembuatannya. Tapi seru! Prinsipnya, bahan baku dari lingkungan sekitar dan dikerjakan bersama-sama oleh warga sekitar. Gotong royong.

Temen-temen Australia seneng banget sama acara injak-injak tanah ini. Mereka kaget ternyata tanahnya berbatu. Rasanya jadi mirip foot massage. Kerja kami cukup sampe di seneng-seneng menguleni tanah. Selanjutnya diambil alih oleh Pak Wayan, pengrajin yang dibawa Pak Gede Kresna dari Bali. Setelah adonan tanah terasa liat, adonan didiamkan 1 hari dan ditutup bambu atau daun pisang. Baru bisa dibentuk kotak-kotak. Batu bata ini bisa juga lho dibentuk relief-relief. Caranya pakai kayu yang udah diukir sebagai cetakan.

menguleni tanah, foot massage
bule-bule juga girang

dibentuk kotak-kotak

mengukir cetakan relief
City Tour
Sehabis workshop 'tanah' kami balik ke dorm, siap-siap city tour. Padahal kaki pegelnya bukan main. Lihat kasur ketebak banget, aku ketiduran. Si Linda dan Sifa panik ketokin pintu. Untung kebangun.

Naik bus CDU, kami keliling-keliling kota Darwin. Ada pantai di sepanjang mata memandang. Arsitektur dan material bangunan di Darwin bisa dibilang nyaris seragam. Kata Simon Scally, NT Chapter President sekaligus tour guide kami, permasalahan kota Darwin adalah badai, udara kering musim panas yang sering bikin hutan semak terbakar, dan nyamuk yang bikin malaria mewabah.

Gereja Katedral di Darwin
ada beginian di shopping center
shelter di pedestrian ways
tulisan 'darwin' dalam berbagai bahasa

St. Mary's Primary School
Sekolah Dasar tertua di Darwin sejak tahun 1958. Nama sebelumnya St. Joseph's School. Tahun 2010 diredesain oleh Troppo Architect. Beberapa penghargaan yang diraih: AIA (NT) Urban Design Award, 2011; AIA (NT) Colorbond Steel Award, 2011; AIA National Urban Design Award commendation, 2011; AIA (NT) Tracy Award, 2011.

tampak depan St. Mary's School
lapangan tengah

foto oleh troppo
foto oleh troppo

Burnett House
Bangunan tropis 2 lantai didesain oleh Beni Burnett yang sekarang dijadikan sebagai cagar budaya Northern Teritory. Selesai dibangun tahun 1938. Berlokasi di Myilly Point Heritage Precinct. Yang menarik, bangunannya pakai material kayu semua, penghawaan alami, jalusi lebar-lebar, cuma dibatasi pakai kassa biar anti nyamuk. Malah kayak bangunan tradisional di negara kita ya hahaha. Di sini kita bisa beli souvenir dan barang antik. Atau yang lebih asik lagi kita juga bisa Afternoon Tea di tamannya.

fasad Burnett House
welcome to Burnett House
penghawaan alami di ruang tidur
hamparan pantai di depan Burnett House

Setelah kunjungan ke Burnett House dan St. Mary's Primary School, dan jalan jauh, di atas bus aku berkali-kali ketiduran. Padahal Simon dan Nield masih terus nerangin bangunan-bangunan sekitar. Pas kebangun aku lihat Simon senyum kasihan. Ternyata satu bus pada ketiduran. Harus dimaklumi. Aku bahkan belum tidur seharian.

Rabu, 25 Juni 2014

AusIndoArch Workshop #day1

Akhirnya dateng juga hari H setelah beberapa minggu bahkan bulan yang lalu ribet nyiapin ini itu buat berangkat. Mulai dari paspor (karna belum pernah ke luar negeri), visa (sampe ditelfon embassy aussie di Jakarta karna suatu hal), materi workshop, alat gambar, baju formal, sampe lotion anti nyamuk dan sunblock (saran Bu Yohana). Mari kita mulai. Maaf ya kalo ceritanya bakalan panjang banget.

Jam 11.00 WIB barangkat ke bandara dianter mama papa. Agak was-was juga karna bakal terbang ke Denpasar tanpa orang tua, entah itu mama papa atau dosen. Cuma sama mas Lishin angkatan 2010 yang juga ga berpengalaman terbang. Kami transit ke Surabaya dulu sebelum ke Denpasar. Terbang dari Semarang jam 12.40 WIB. Sampe Bandara Juanda Surabaya jam 13.10 WIB. Terbang lagi ke Denpasar jam 15.40 WIB. Ini pengalaman terbang paling keren, pesawat dan awannya. Pake sinar matahari sore soalnya.

Akhirnya jam 17.40 WITA sampailah kami di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Alhamdulillah perjalanannya lancar tanpa nyasar. Ga nyangka bakal menginjak tanah Bali lagi. Sesuai arahan dari Bu Yohana, kami diminta kumpul di Kopitiam terminal internasional jam 21.00 WITA. Ekspresi kami bingung-bingung lucu pas cari-cari Bu Yohana. Ya maklum, belum pernah ketemu. Berasa kopi darat. Pas ngeliat sesosok yang sekiranya Bu Yohana, aku cuma berani cengar-cengir dari jauh. Eh, Bu Yohana nyamperin dan langsung tau kalo aku Rieza dari Undip. Kami, 18 mahasiswa Indonesia, saling kenalan. Ada yang dari UI, Unpar, UNS, ITS, Unhas, bahkan sampe Flores. Sebelum check in kami diminta buat foto bareng.


Jam 22.00 WITA kami check in. Pas mau ke ruang tunggu aku kena sita minuman kotak Sari Kacang Ijo. Sedih. Jadi ga boleh bawa wadah zat cair yang masing-masing bisa memuat lebih dari 100 ml ke dalem pesawat. Inget ya, wadah. Ga peduli itu isi atau kosong. Jadi kalo mau bawa ya masukin aja di bagasi. Beres.

Di ruang tunggu malah pada keasikan nonton World Cup sampe lupa pesawat boarding jam berapa. Aku tiba-tiba kebelet pipis parah di saat pesawat udah mau boarding. Lari-lari drama banget. Mana pake dicek diraba-raba ulang pula. Tapi sama sekali ga nyesel karna toiletnya mewah banget. Di dalem toilet aja pake dikasih bunga-bungaan cantik segala.

orange ticket!

Masuk pesawat buat terbang ke Darwin jam 01.00 WITA. Rasanya deg-degan tapi udah agak ilang karna kalah sama capenya. Baunya bau bule! Lagu di dalem pesawat Magic nya Coldplay. Pas banget ya, perjalananku ke Aussie ini juga magic. Begitu masuk dibagiin form buat mengklaim barang apa aja yang kita bawa. Buat mastiin kalo kita ga bawa barang-barang yang dilarang sama bea cukai sana. Dan aku bawa beng-beng di dalem koper T.T

incoming passanger card

wajib diklaim dan dilarang


Di pesawat ga bisa tidur, tersiksa rasanya, flu dan kedinginan berat.

Jam 05.10 waktu Darwin kami sampai. Alhamdulillaaah. Perbedaan waktu Darwin sekitar 2,5 jam lebih dulu dari Semarang. Berharap keluar pesawat menghirup udara yang agak angetan. Eh sama aja ternyata. Lebih menusuk tulang malah. Di bandara Darwin kami ribet ngeralat form, sampe ditegor petugas. Ribet buangin makanan juga. Jadi di custom and border udah disediain beberapa tong sampah gede buat buang barang-barang terlarang. Termasuk beng-beng.

Keluar dari bandara, kami udah dijemput rombongan konsulat dan bus Charles Darwin Unversity. Sopirnya bule cewe, cantik! Dia langsung menyapa kami dengan ramahnya. Kami dianter menuju dormitory CDU, yang ternyata deket banget dari bandara. Di perjalanan langsung dibuat takjub sama sunrise Darwin.

Sampe CDU kami duduk-duduk-kedinginan bentar sambil dikasih arahan sama panitia workshop sekaligus pembagian kunci kamar. Jauh dari bayanganku, ternyata tidurnya satu kamar satu anak, dan kuncinya pake key card kayak di hotel-hotel. Aku dapet nomer kamar 15.2.15.


dorm-ku, building 15 warna ungu
dorm tetangga, building 16 warna lime

Rabu, 18 Juni 2014

Surprise dari Negeri Kanguru

Berawal di bulan Maret minggu ke 3, hari kedua aku masuk kuliah, hari Jumat, makul Seminar. Aku telat masuk, langsung duduk di tribun paling atas, alias paling belakang. Udah ada Bu Hermin dan Pak Dhanoe lagi ngasih pengarahan soal makul Seminar, sekaligus pembagian dosen pembimbing. Depanku si Ulfi sama Adis udah berisik aja.

'Za, dosbingmu pak 'the dark lord' lho'
'HAH? Naudzubillah. Tipu lah'
'Seriiiiuuusss'

Aku sok kalem, diem.

Mereka berisik lagi
'Za, Prof Totok minta nomermu lho'
'HAH?? Nomer apa? Ini lebih tipu'
'Beneran, dibilangin ga percaya'

Sampe akhirnya namaku dipanggil, dan dosbingku ternyata Pak Septana yang baik hati sama Pak Sahid, pak bos yang baik kalo ada Pak Septana. Alhamdulillah, semoga Seminar lancar.

'Rese kan kalian. Tega banget tipu-tipu terus'
'Hahaaahaaa. Tapi yang Prof Totok beneran lho za'

Hal yang masih memungkinkan, kaya dosbing seminar 'the dark lord' aja aku nyaris ga percaya, apalagi yang ga memungkinkan macem Prof. Totok minta nomerku -_____-

Tapi sampe keluar kelas mereka masih ribut soal Prof Totok. Katanya bener-bener beneran. Jadi staff pengajaran ada yang nanya nomerku ke Ulfi dan Adis. Katanya dicari Prof Totok. Aku bener-bener masih ragu. Jadi cuek aja. Takut juga kan.

Minggu besoknya, ada pengumuman beasiswa acara student design workshop di Darwin, Australia.  Hula langsung pada cie-cie-in aku. Padahal kan belum tentu gara-gara itu Prof Totok minta nomerku. Aku masih cuek dan sama sekali ga percaya. Minggu besoknya lagi, ada pengumuman di kaca pengajaran soal peserta yang daftar acara Aussie itu. Tiba-tiba ada namaku di daftar paling atas, dan dicetak miring. Masya Allah, apaan ini?? Ternyata itu pengumuman peserta yang lolos dari jurusan. Jadi dipilih 2 mahasiswa dari tiap universitas, buat selanjutnya ngirim berkas kayak portfolio, CV, motivation letter dan segala macem ke konsulat di Darwin. Dan ternyata yang dipilih buat kirim berkas aku sama mas Lishin 2010. Nah, yang berangkat cuma 1 anak. Berdasarkan kabar yang tersiar dari Hula, katanya Pak Bharoto yang ngerekomendasiin aku ke Prof Totok. Aaaaaaaaaaa.

Hari Jumat ke kampus ditungguin Inta. Berniat mau nyelesaiin berkas yang harus ditandatangani Kajur, dan dosen waliku, yang kebetulan adalah Pak Bharoto. Pak Bharoto baru aja turun dari mobil abis jumatan bareng pak dosen lainnya. Langsung aku samperin. Dan ekspresi beliau, bisa ditebak. Ya begitu itu. Kayak kesel-kesel gimanaaa gitu. Emang selalu begitu sih ya kayaknya.

'Maaf  Pak Bharoto, saya mau minta tanda tangan transkrip buat worksss....'
'Alah kamu ini. Gitu pake bilang ga mau ikut segala. PAYAH'

Aku ga sanggup nahan shock, langsung balik badan dan lari ke Inta, panik. Jangan-jangan pas aku sok-sokan menyangkal pengumuman di depan pengajaran, Pak Bharoto denger. Pak Echa sampe ketawa ngeliat ekspresi pak Bharoto yang setengah kesel dan aku yang heboh -_-

Kami ke ruang Lab Sejarah, ruangan Pak Bharoto. Beliau masih aja nyindir-nyindir.

'Gitu bilang ga mau ga mau'
'Bukannya ga mau pak, tapi takut'
'Alaaaah, takut apa'
'Takut malu-maluin Undip pak'
'Ya makanya kamu berusaha biar ga malu-maluin Undip! Orang temen-temenmu yang lain itu keliatannya dari luar aja hebat, padahal ga sehebat yang saya kira, ga bisa diandalkan.'

JLEB. Fix, ini beban.


***

17 April sore, ada sms ini.

Sore Rieza, ini Yohana. Saya mau memberitahukan bahwa kamu sudah terpilih utk mengikuti program beasiswa utk student design workshop di Darwin. Nanti formal invitation letter nya akan saya kirim. Saya juga mau menganjurkan bahwa sebaiknya paspor dibuat sedini mungkin sehingga bisa mengurus visa dengan segera. Bisa saya minta alamat email kamu dan juga no. Rekening sehingga nanti kita bisa transfer uang beasiswanya. Terimakasih, Yohana


formal invitation letter

Alhamdulillah. Ngerasa ga pantes dapet keberuntungan kayak gini. Allah emang suka terlalu baik. Udah deg-degan panas dingin mau ceritain ke mama papa. Dan reaksi mereka?

'Ah palingan itu temenmu iseng sms biar kamu seneng. Ada kan temenmu yang namanya Yohana?'
'Ya ada sih ma tapi aku ga kenal' *sok cool padahal nyesek

Kemudian antiklimaks.