Jumat, 31 Desember 2010

Laporan Social Care 2010

Ini laporan yang aku email ke si Luluk

MOTTO :
PEDULI SEPENUH HATI, be SOCIAL be CARE (wkwk apadeh ini. Jangan ketawa ya luk! Aku bingung soalnya)

KEGIATAN SEHARI HARI :

SURVEY 23 Desember 2010
Hari ini kelompok 3 dan 4 survey di Panti Wredha Pucang Gading. Setelah melihat-lihat suasana dan kondisi 8 bangsal didampingi Bapak Ali, kami berunding di ruang tamu depan. Membagi jadwal tugas menggunakan gulungan kertas. Berikut jadwal ruang tugas saya:
Senin: Anggrek (Saya, Ima, Luluk, Nia)
Selasa: Cempaka (saya, Hanan, Icha, Nia)
Rabu: Flamboyan (saya, Hanan, Nia)
Kamis: Cempaka (saya, Desy, Hana, Icha)


Senin, 27 Desember 2010

Hari pertama Soscare rasanya deg-degan dan gerogi sekali. Saya datang terlambat padahal rumah saya paling dekat dengan panti wredha. Teman-teman yang lain sudah datang berseragam OSIS lengkap. Karena datang terlambat, mereka mengerjai saya dengan menyembunyikan co card yang harusnya saya pakai selama di panti. Pukul 07.00 tepat dilaksanakan Upacara Luar Biasa kemudian dilanjutkan senam bersama para kelayan (sebutan lansia di panti). Kami bergegas ganti kaus dan celana training untuk senam. Pukul 07.45 menuju bangsal masing-masing. Hari ini saya di bangsal Anggrek. Setelah cium tangan dan berkenalan dengan kelayan disana, saya dan Nia membantu memasang sprei. Saya mengajak salah seorang kelayan berbincang bincang menggunakan bahasa Jawa krama. Ini pertama kalinya saya mempraktekan bahasa krama. Yah, walaupun terkadang jawabannya ngalor ngidul. Tiba-tiba saya dipanggil Pak Hariadi, pembimbing kami di panti.

"Ini lho, Mbah Minah mau kenalan.."

Hehe, saya kira mau menegur karna tidak kerja apa-apa. Saya pun menanyakan nama dengan bahasa krama.

"Eyang, asmanipun sinten?"

Eh beliau malah menjawab
"Mbah ga bisa bahasa Jawa, mbak.."

Alhamduluillah. Saya langsung mengobrol dengan lancar. Betah lama-lama mengobrol dengan beliau. Ternyata beliau asli Palembang, dan waktu saya tanya kenapa bisa sampai Semarang beliau menjawab "Yaa namanya juga orang, problemnya beda-beda" dan dari pernyataan itu Eyang Minah mulai bercerita panjang lebar tentang masa lalunya. Mulai dari Eyang yang dulu suka mencuri pepaya, mentimun, dan buah lain di kebun orang sampai cerita mantan pacar dan suaminya dulu. Eyang Minah mempunyai 6 orang anak dan 6 orang cucu. Beliau mengajari saya bahasa Palembang. Saya pun juga tak mau kalah, mengajari beliau bahasa Jawa. Oh iya, beliau menyanyikan lagu-lagu daerah Palembang seperti Angin Mamiri dan Anak Palembang untuk saya. Untungnya saya hafal lagu-lagu daerah itu. Tidak lupa, saya meminta Eyang menyanyikan soundtracknya saat masih berpacaran dulu. Suara Eyang Minah bagus, membuat seisi bangsal tertawa senang.

Saya juga berbincang dengan Mak Yem. Beliau berasal dari Tegal. Entah bagaimana, beliau langsung bercerita tentang kisah hidupnya yang sangat sulit. Saat hamil 3 bulan, suami Mak Yem diculik oleh Belanda dan tidak kembali sampai bertahun-tahun. Beliau bercerita hingga menangis. Saya jadi iba melihatnya. Kaki kanannya patah dan harus pakai tongkat.

Tidak banyak teman-teman soscare yang mendapatkan kesempatan untuk mendengar cerita para kelayan. Saya beruntung.

Selasa, 28 Desember 2010

Pagi ini setelah apel, senam seperti biasa bersama para kelayan. Saya bertemu Eyang Minah lagi dan langsung cium pipi. Hari yang penuh tantangan karena hari ini saya, Hanan, Icha, dan Nia bertugas di bangsal Cempaka yang notabene bangsal ketergantungan. Penghuni disana merupakan kelayan yang sudah tidak bisa mandiri. Jadi butuh kerja ekstra. Belum lagi bau pesing dan tidak sedap yang begitu menyengat. Namun kami di sini untuk mengabdi dengan ikhlas. Semangat! Untungnya kami berempat membawa masker.

Saat perkenalan, begitu banyak karakter unik dan berbeda antara kelayan satu dengan yang lain. Ada yang hobi angguk-angguk kepala, hobi jalan-jalan, hobi menyiram air di kamar mandi, hobi ngoceh, sampai hobi makan abu rokok. Pagi-pagi saja sudah ada 3 kelayan buang air besar sembarang tempat di waktu yang bersamaan. Kami dan mahasiswa-mahasiswi UNISULA dibuat heboh dan repot. Tetapi semua ini kami jadikan hal yang seru dan menyenangkan.

Pukul 11.00 kami mengantarkan makanan untuk para kelayan. Menu hari ini sayur asem dan botok petai cina. Bonus buah pisang. Yang menyenangkan, para kelayan makannya lahap sekali. Belum semua kebagian, nasi di piring sudah habis. Kami pun melayani mereka dengan mengambilkan minum satu persatu. Ada yang lucu, Hanan sempat disiram air minum oleh salah seorang kelayan yang agak kurang sehat akal.

eyang yang hobi mondar mandir di Bangsal Cempaka

kasian si eyang diserbu bocah2 -_-

Oh iya, hari ini jadwal kegiatan panti adalah Kesenian. Anak-anak SMA 3 ikut menghibur dengan berjoget di depan bersama eyang-eyang. Ketika acara kesenian usai, saya dan Hanan hendak membantu seorang kelayan menuju ke bangsalnya. Saat ditanya bangsalnya di mana beliau malah berjoget di depan dan melepas gandengan kami padahal acara sudah selesai. Apa boleh buat.


Rabu, 29 Desember 2010

Seperti biasa, berangkat pukul 06.45 lalu apel dan senam dua kali. Bedanya, hari ini sudah tidak gugup seperti kemarin-kemarin karena mungkin sudah terbiasa. Kali ini saya bertugas di bangsal Flamboyan yang katanya 11:12 alias beda tipis dengan bangsal Cempaka. Sama-sama bau pesing. Ah, tapi saya justru paling senang di bangsal ini karena sambutan kelayannya lebih ramah dan menyenangkan. Eyang-eyang disini baik-baik semua. Saya berbincang panjang lebar dengan Eyang Solo dan Eyang Cantik. Karena bangsal ini berisi kelayan yang keadaannya satu tingkat di bawah bangsal Cempaka, maka kami pun kesulitan untuk menanyakan nama. Eyang Solo asalnya dari Solo dan bicaranya juga sudah pasti bahasa Jawa daerah Solo, banyak kosakata aneh jadi saya terkadang hanya ikut tertawa kecil saat beliau tertawa dan pasang mimik serius saat nada bicara beliau mulai serius. Kalau Eyang Cantik bisa bahasa Indonesia jadi saya mengerti apa yang beliau ceritakan. Oh iya, suaminya merupakan salah satu korban dari tragedi G30S-PKI. Kasihan ya. Cerita mereka sangat seru dan membuat kami terharu.

eyang cantik di Bangsal Flamboyan
Pukul 09.00 ada acara rutin panti, yaitu bermain rebana. Semua anak SMA 3 juga ikut memainkan rebana di depan para kelayan. Kelayan yang menonton kami menjadi terhibur. Kami pun ikut senang melihat mereka senang. Walaupun ada juga yang sambil mengantuk. Wah, ini pengalaman pertama saya bermain rebana.


Kamis, 30 Desember 2010

Hari ini merupakan hari terakhir kami di Panti Wredha. Seharusnya jadwal saya di Cempaka lagi bersama Desy, Hana, dan Icha. Tetapi karena ini hari terakhir, kami sibuk mempersiapkan acara perpisahan. Kelompok kami dari SMA 3 memberikan kenang-kenangan berupa plakat dan tempat sampah sejumlah kelayan di panti. Kami sibuk menempeli kertas berlogo SMA 3 di tempat sampah tersebut satu persatu yang kemudian akan dibagikan kepada para kelayan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar